Senin, 21 Februari 2022

Pegangan dalam diri

 



Kita di sibukan dengan berbagai macam pertanyaan tentang sebuah konten di medsos dalam rangkaian beberapa hal yang di dalamnya mengandung sebuah makna, arti, simpulan serta pencerahan, dan akhir-akhir ini kita sering melihat fenomena perpecahan dalam negara kita sendiri dari berbagai aspek yang meliputi ranah pemikiran/akal manusia, dan disitu pasti ada biang keladinya ( yang mengadu domba ). Buat apa mereka melakukan sesuatu hal yang menyebabkan perpecahan dalam kalangan kita sendiri ? Padahal lebih indah persatuan dan perdamaian didalam benak hati kita dan di dalam lingkup masyarakat supaya bisa saling menghormati dan menyayangi antar sesama. Adapun kata sayyidina Ali "Jika Dia Bukan Saudaramu Seagama, Dia Saudaramu Dalam Kemanusiaan. Nah sedangkan ini yang seagama sering terjadi pecah belah lantaran tidak sepaham dan tidak sepemikiran dan di kita kalau pun ada sedikit ke keliruan maka adakanlah tabayyun supaya sreg dan tidak slek dalam memandang apa yang disampaikannya. Dibenak pikiran kita pasti ada pertanyaan tentang konten ustadz seperti apa yang harus saya tonton di medsos ? Jujur ini pertanyaan yang susah untuk dijawab, tapi ada pegangan dalam hidup kita dalam kisah Nabi Muhammad SAW ketika menyuruh Mu'adz bin Jabal berdakwah menyebarkan Islam di Yaman. Nabi berkata kepada Mu'adz, "Wahai Mu'adz, berikanlah kabar gembira dan bukan ketakutan. Dan permudahlah dan jangan engkau persulit." Itulah dua hal penting yang seharusnya jadi pegangan bagi setiap pendakwah Islam di mana pun dan kapan pun. Sekaligus, itu juga buat pegangan kita dalam menilai dan memilih konten islami.

Wallahu'alam bish shawab.

Jumat, 18 Februari 2022

Andai Waktu Bisa Diulang

 



Seringkali dibenak pikiran kita ada kalimat seperti ini "( Andai waktu bisa diulang/diputar ). Sebegituhkah pemikiran yang tak sepantasnya terlintas dalam otak kita, bagaimana pun semua itu sudah berlalu mana bisa untuk diulang atau diputar, hal seperti ini menandakan bahwa seseorang memiliki kecenderungan rasa bersalah sehingga ingin berlogika kan seperti itu, tak terpikirkan kah bahwa semua ini adalah takdir dan tak bisa untuk diulang kembalikan waktu sesuai dengan keinginan kita. Bagaimana kita bisa memperoleh nikmat syukur sedangkan kita selalu kurang akan apa yang kita peroleh dimasa sekarang sehingga menyalahkan masalalu dan ingin diulang supaya bisa memperbaiki kesalahan kesalahan yang sudah diperbuat, bukankah sekarang juga bisa untuk memperbaiki semuanya dan semua itu belum terlambat dikalau ruh masih bersemayam dalam jasad. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain tapi bandingkanlah dirimu yang sekarang dengan masalalumu. Apakah lebih baik atau kah lebih buruk atau kah belum sama sekali ada perubahannya ? Dimana kita kalau masih memikirkan hal tersebut dalam kehidupan kita akan sedikit sekali makna ikhlas dalam menjalani hari dan seolah olah diri kita sendiri tidak ridho dengan hari hari yang telah kita lalui sampai detik ini. Bukankah overthinking itu sangat tidak boleh untuk kita yang selagi masih mempunyai iman dalam hati dan pikiran, ibadah yang berlebihan saja sangat tidak dianjurkan apalagi overthinking, pernah anak muda pas di jaman Nabi ingin melebihi ibadahnya sehingga ia berpuasa tanpa berbuka dan itu sering dan apa yang terjadi ? Bukan imannya yang naik tapi asam lambungnya yang naik. Dirimu punya porsi dalam hidupmu begitu pun orang lain, jadi tetap menjadi versi yang terbaik bagimu dan lakukan hal yang bermanfaat sekejangkau kalian dan sebisa kalian. Masihkah kita mengungkapkan "Andai waktu bisa diulang". 

Wallahu'alam bish shawab

Berpergian Hendaknya Berdo'a

  Buat penuh kewaspadaan untuk semua orang yang mau keluar atau berpergian sebaiknya kita harus senantiasa berdo'a supaya selamat dan sa...